Jumat, 07 Oktober 2016

Permasalahan Budaya di Indonesia dan Solusinya

Indonesia, negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, memiliki 203 juta orang yang hidup di hampir seribu pulau menetap secara permanen. Beberapa kelompok etnis yang berkisar dua sampai tiga ratus dengan bahasa dan dialek mereka sendiri berkisar pada populasi dari Jawa (sekitar 70 juta) dan Sunda (sekitar 30 juta) di pulau Jawa dan masyarakat lain yang jumlahnya mencapai ribuan di pulau lainnya. Kebudayaan nasional paling mudah diamati di kota-kota, tetapi aspek tersebut sekarang mencapai ke pedesaan juga. Dari beragamnya etnis di Indonesia, hal tersebut juga melahirkan budaya yang berbeda-beda pada setiap tempat di Kepulauan Indonesia. Tetapi, dari beragamnya budaya di Indonesia, ada beberapa budaya yang dapat menimbulkan persoalan dan bahkan mungkin belum bisa terpecahkan secara menyeluruh sampai saat ini. Inilah anggapan miring yang memang benar adanya. Sebuah negara yang di dalamnya terdapat kebudayaan-kebudayaan indah akan tercoreng namanya hanya karena adanya anggapan buruk yang memang benar terjadi tersebut.

Jadi, kali ini akan dibahas beberapa contoh persoalan budaya yakni diantaranya :
  • Penggunaan bahasa yang kasar
  • Membuang sampah sembarangan
  • Korupsi
Yang dapat diselesaikan melalui beberapa aspek, yakni :
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Keluarga
  • Lingkungan


A. Penggunaan bahasa yang kasar
Penggunaan bahasa yang kasar dapat dipengaruhi oleh faktor intelegensi, status sosial ekonomi, dan hubungan keluarga.
  • Intelegensi
Perkembangan bahasa seseorang dapat dilihat dari tingkat intelegensinya. Seseorang yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi yang normal atau di atas normal. Namun, tidak semua orang yang mengalami kelambatan perkembangan bahasa dapat dikategorikan sebagai orang yang bodoh.
  • Status Sosial Ekonomi
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga miskin cenderung mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan orang yang berasal dari keluarga yang status sosial ekonomi keluarganya lebih baik. Kondisi ini mungkin terjadi dikarenakan perbedaan kecerdasan atau kesempatan belajar, atau kedua-duanya.
  • Hubungan Keluarga
Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orangtua yang mengajar, melatih, dan memberikan contoh berbahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara orangtua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat yang dapat berupa sikap orangtua yang kasar, kurang kasih sayang, atau kurang perhatian untuk memberi contoh berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti : gagap dalam berbicara, dan berkata kasar atau tidak sopan.


Solusi : Solusi terbaik untuk menangani penggunaan bahasa yang kasar yaitu dimulai dari keluarga. Di waktu kecil, orang tua harus memperkenalkan anak dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan kata ganti yang bertujuan untuk memperhalus bahasa misalnya kata kucing dirubah menjadi pus. Jika Anda melakukan hal tersebut maka anak tidak mengenal kata-kata sesungguhnya. Dan akan terjadi kekeliuran bahasa yang terus menerus, dan jangan pernah membiarkan ia menonton televisi sendirian, meskipun itu tayangan untuk anak-anak. Karena walau bagaimanapun banyak tayangan anak-anak yang sebenarnya tidak layak, seperti adegan kekerasan.



B. Membuang sampah sembarangan
Penyebab utama perilaku membuang sampah sembarangan ini bisa terbentuk dan bertahan kuat di dalam perilaku kita, antara lain :
  1. Didalam pikiran alam bawah sadar, masyarakat menganggap bahwa membuang sampah sembarangan ini bukan merupakan suatu hal yang salah dan wajar untuk dilakukan.
  2. Norma dari lingkungan sekitar seperti keluarga, sekolah, masyarakat, atau bahkan tempat pekerjaan. Pengaruh lingkungan merupakan suatu faktor besar didalam munculnya suatu perilaku. Contohnya, pengaruh lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, akan menjadi faktor besar dalam munculnya perilaku membuang sampah sembarangan.
  3. Seseorang akan melakukan suatu tindakan yang dirasa mudah untuk dilakukan. Jadi, orang tidak akan membuang sampah sembarangan jika tersedianya banyak tempat sampah.
  4. Tempat yang kotor dan memang sudah banyak sampahnya. Tempat yang asal mulanya terdapat banyak sampah, bisa membuat orang yakin bahwa membuang sampah sembarangan diperbolehkan ditempat itu. Jadi, warga sekitar tanpa ragu untuk membuang sampahnya di tempat itu.
  5. Kurang banyak tempat sampah. Kurangnya tempat sampah membuat orang sulit untuk membuang sampahnya. Jadi, orang dengan mudah akan membuang sampahnya sembarangan.

Solusi : Solusi terbaik adalah dengan memberikan hukuman yang memberi efek jera agar tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan, sediakan banyak tempat pembuangan sampah dan setiap individu harus mempunyai prinsip jika membuang sampah sembarangan berarti melakukan dosa.



C. Korupsi
Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya Korupsi adalah :
  1. Penegakan hukum tidak konsisten : penegakan hukum hanya sebagai make-up politik, bersifat sementara dan selalu berubah setiap pergantian pemerintahan.
  2. Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena takut dianggap bodoh bila tidak menggunakan kesempatan.
  3. Langkanya lingkungan yang antikorup : sistem dan pedoman antikorupsi hanya dilakukan sebatas formalitas.
  4. Rendahnya pendapatan penyelenggaraan negara. Pendapatan yang diperoleh harus mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara negara, mampu mendorong penyelenggara negara untuk berprestasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
  5. Kemiskinan, keserakahan : masyarakat kurang mampu melakukan korupsi karena kesulitan ekonomi. Sedangkan mereka yang berkecukupan melakukan korupsi karena serakah, tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.
  6. Budaya member upeti, imbalan jasa dan hadiah.
  7. Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi : saat tertangkap bisa menyuap penegak hukum sehingga dibebaskan atau setidaknya diringankan hukumannya. Rumus: Keuntungan korupsi > kerugian bila tertangkap.
  8. Budaya permisif/serba membolehkan; tidak mau tahu : menganggap biasa bila ada korupsi, karena sering terjadi. Tidak perduli orang lain, asal kepentingannya sendiri terlindungi.
  9. Gagalnya pendidikan agama dan etika : ada benarnya pendapat Franz Magnis Suseno  bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Pemeluk agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. Sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam  memainkan peran sosial. Menurut Franz, sebenarnya agama bisa memainkan peran yang besar dibandingkan insttusi lainnya. Karena adanya ikatan emosional antara agama dan pemeluk agama tersebut jadi agama bisa menyadarkan umatnya bahwa korupsi dapat memberikan dampak yang sangat buruk, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Solusi : Aparat penegak hukum harus menghukum seberat beratnya pelaku korupsi atau berikan hukuman mati kepada pelaku korupsi agar memberikan efek jera.



0 komentar:

Posting Komentar